3.9.10

Ajar Aku untuk Hidup



Lenguh. kaki ini sarat dengan rantaian besi hitam yang memaku tumit aku ke lantai amarah. masih gagah untuk cuba berjalan. gagal. lama, aku tundukkan wajah suci ini. alihkan pandangan dari mata mata pendengki, agar mereka tidak mampu mengesan air mata sujud yang aku kirim kepada Tuhan tadi.


Bila berjalan tak mampu aku lakukan lagi, aku tukar strategi. aku duduk mengengsot. membawa seribu luka-luka di dada yang parah ditembus peluru fitnah ke daerah kesembuhan. biarlah sejauh mana tubuh ini mengorak langkah, aku mahu lihat  sekental dada ini menahan debu-debu peluru dan berikrar tidak sesekali memuntahkan kesakitan kepada yang lain. cukuplah bisa dan nanahnya berlubuk di sini. aku jahit luka dengan seribu penyesalan dan usapkan iodin keinsafan. pasrah dan berserah, namun sesekali tidak mengalah!


rantaian dendam, amarah dan khianat tadi sudah terbuka perlahan-lahan. merelakan tubuh yang sudah hampir binasa ini melawan arus, tidak terus tunduk. rantai itu melepaskan aku, kerna hormatnya pada semangat tidak putus asa yang aku miliki. kerna ia mengerti, aku masih dalam petempuran ujian, perlu tahu mana salah silap dan bukan sifat rantai itu, untuk mengikat orang yang berusaha seperti aku. aku dalam ujian, jadi kegagalan bukanlah kata putusnya. 


Berikrar tidakkan jejak ke lantai amarah itu lagi, aku pon mulai bangkit perlahan-lahan, tegak kembali. namun, bukanlah seorang diri. bertompang. dan tompang besi penguat diri ini adalah kamu - yang membaca tinta hitam di atas putih, yang mendoakan kesejahteraan ke atas roh ku. memberi teduhan dalam panas yang panjang.


salam sejahtera keatas mu, umat junjungan.