19.7.10

Mengenang Wiji


kalau aku ini manusia yang punya perasaan jiwa pasti aku doakan kesejahteraan buat jiwa mu.
kalau aku ini seorang hamba pasti aku taat menurut segala perintah dan akur dengan arahan mu.
kalau aku ini cinta yang rawan pasti aku bikin hati mu senang dengan senyuman dan peluk balas yang hangat.
kalau aku adalah semua buat mu. semua yang indah dan menenangkan..
untuk terakhir kalinya aku bertanya,

kalau aku ini racun dan penawarnya hanya kamu, sanggupkah kau berbagi kebahagiaan dirimu buatku?
tegakah kau menyakiti dia dan berpaling ke arahku?

aku lihat kau pandai memintal kata-kata.
makanya ulitlah malam ku dengan kata-katamu agar hanya yang indah dalam mimpiku.
kerna aku bukan Tuhan, manusia mahupun malaikat.
aku hanya mamalia berdarah panas, bernafsu buas langsung tiada perasaan.
yang paling hina dalam dunia penuh dusta cacamerba.

Sekejapan,
 Wijaya Agustika
2009 Dis 24

Wiji was my fav poet since 06. he died 3 hours after he wrote this poem at age of 45 and he was alone in his house in Jogja.. So,this is his last piece. rest in peace my man...